[Catatan] Perjumpaan Awal dengan Gol A Gong dan Hal-Hal Terkait Kepenulisan
Berfoto di Museum Literasi Gol A Gong Suatu siang di sudut kampus, sebuah bazar buku sedang ramai didatangi mahasiswa. Di antara lalu-lalang orang dan tumpukan buku yang berjejer di atas meja panjang, seorang mahasiswa kurus beralmamater kuning berhenti di salah satu stan. Matanya menyapu harga-harga buku yang tampak tidak bersahabat dengan sisa uang jajannya hari itu. Namun ada satu hal yang lebih besar daripada isi dompetnya: gengsi. Rasanya terlalu malu jika pulang tanpa membawa satu buku pun. Ia mulai mencari buku paling murah. Tangannya lalu berhenti pada sebuah buku bersampul kuning dengan judul nyentrik: "Ledakkan Idemu Agar Kepalamu Nggak Meledak" karya Gol A Gong (yang tahun ini akan dicetak ulang dengan sampul baru). Nama yang, saat itu, masih sangat asing baginya. Ia membeli buku itu bukan karena mengenal penulisnya, melainkan semata karena harganya yang paling masuk akal untuk ukuran kantong mahasiswa. Tapi jalan takdir tidak ada yang tahu ke mana ia akan berkelok...